Minggu, 05 Agustus 2018

Vinci, Kota Kelahiran Super Genius Leonardo da Vinci

Patung Vitruvian Vinci

Lukisan Monalisa dan Last Supper yang super ngetop adalah karya Leonardo da Vinci super genius dari Italia. Mengapa disebut super genius? karena Leonardo tidak hanya jagoan melukis tapi buanyak sekali bidang yang dikuasainya, kedokteran, arsitektur, , penemu peralatan.

Menjadi menarik sekali bagi saya mempelajari kehidupan Leonardo dimulai dari kota kelahirannya Vinci. Kota perbukitan ini dikelilingi pemandangan cantik kebun anggur dan zaitun. Perhentian pertama rumah tempat Leonardo dilahirkan, rumah yang letaknya agak tinggi ini dihiasi dengan kebun zaitun dan bunga-bunga cantik. Rumah keluarga Leonardo ini sekarang telah menjadi museum. Dengan membeli tiket masuk di museum ini sudah termasuk biaya masuk 2 museum Leonardo da Vinci lainnya di kota ini.
Rumah Keluarga Leonardo da Vinci
Koleksi keluarga Leonardo terpajang di rapi di museum kecil ini termasuk catatan kakek Leonardo mengenai kelahiran Leonardo. Film dokumenter kehidupan Leonardo diputar di ruangan nonton, dua layar besar mengapit layar ditengah yang agak berbeda. Di layar tersebut kita bisa melihat seakan-akan Leonardo Da Vinci tua bercerita di depan kita. Leonardo ditampakkan sebagai kakek tua dengan cambang dan janggut panjang berwarna putih serta memakai jubah panjang. Terlihat seperti Dumbeldore dari film Harry Potter.
Video Lenardo Da Vinci
Kisah hidup Leonardo da Vinci ternyata cukup kelam. Leonardo dilahirkan dari pasangan Caterina dan Piero Fruosino dan keduanya tidak pernah menikah. Oleh karena itu Leonardo tidak menggunakan nama keluarganya Fruosino tetapi Vinci kota kelahirannya.

Leonardo kurang mendapat perhatian dari ayahnya yang menikah dengan wanita lain dan memiliki banyak anak. Ibunya sendiri menikah dengan pria lain dan memiliki banyak anak. Sesekali ibunya mengunjungi Leonardo. Hanya pamannya yang sangat menyayangi Leonardo. Bahkan di masa tuanya, Leonardo tidak kembali ke kota kelahirannya Vinci karena orang tua dan saudara-saudaranya sama sekali tidak membagi warisan.

Museum Leonardo yang ke dua di kota ini terletak di dekat gereja yang terletak di pusat kota. Tepat di depan museum terdapat plaza dengan desain yang sangat unik dan menarik,  penuh dengan gambar-gambar futuristik.
Plaza Leonardo Da Vinci
Ternyata semasa hidup, Leonardo membuat banyak sekali catatan/sketsa alat-alat maupun mesin. Di museum ini kita bisa melihat model/visualisasi sketsa Leonardo. Alat-alat nya antara lain crane untuk membuat gedung, mesin pemintal, mesin tenun dan lain-lain. Paling menariknya adalah visualisasi berlian oleh perusahaan permata Italia yang dipotong berdasarkan komposisi Vitruvian Man, hasilnya berlian yang sangat berkilauan sempurna cantik sekali.
Mesin Pemintal Benang
Vitruvian Man sendiri adalah pemikiran Leonardo mengenai bentuk tubuh pria yang sempurna yaitu bila pria tersebut merentangkan tangan lurus kesamping akan membentuk bujur sangkar artinya jarak ujung tangan satu dengan lainnya sama dengan jarak dari ujung kali ke ujung rambut. Sedangkan bila tangan direntangkan ke atas dan membentuk sudut 45 derajat, bila ditarik garis akan membentuk lingkaran.
Berlian Vitruvian
Leonardo juga tertarik mempelajari anatomi dan fisiologi tubuh manusia, di lantai 2 ini kami bisa melihat visualisasi sketsa Leonardo mengenai tubuh manusia, organ dan tulang penyusunnya. Leonardo juga menguasai anatomi dan fisiologi manusia sehingga lukisannya Monalisa, Last Supper dan lain-lainnya terlihat sangat detail melukis tokoh dalam lukisannya.

Lukisan Monalisa sekarang ini terpajang di museum Louvre Paris. Saya berkesempatan melihat lukisan ini dan ruame banget2, tujuan utama kebanyakan orang yang datang ke Louvre adalah melihat lukisan ini. Saya harus berdesakan dengan banyak orang untuk sekedar melihat atau berfoto dengan lukisan yang tidak terlalu besar ini, ukurannya hanya sekitar 77 cm x 33 cm dan tidak bisa lama-lama dipandang. Buanyak sekali yang antri.
Mesin tenun
Museum Leonardo yang ketiga adalah benteng Guidi dengan menara berlonceng. Model/Visualisasi dari sketsa Leonardo da Vinci juga dipamerkan disini, misalnya meriam, tank, crane berukuran raksa, pesawat, baju penyelam, parasut dan masih banyak lagi. Terdapat juga sketsa mirip sepeda yang juga menimbulkan pertanyaan apakah ide design sepeda ditemukan oleh Leonardo da Vinci, 300 tahun sebelum Baron van Klais diakui sebagai penemu sepeda. Pemikiran Leonardo ratusan tahun lebih jauh dari masa kehidupannya dan juga pionir Reinassance pasa abad 15 masehi di Italia.
Tank dan Meriam
Crane untuk pembangunan
Melewati tangga-tangga sempit bertingkat-tingkat dengan terengah-engah kami sampai di puncak menara yang ada loncengnya. Capeknya menaiki tangga terbayar dengan suguhan pemandangan indah perkebunan anggur, zaitun, pepohonan hijau serta rumah-rumah penduduk sangat menyegarkan mata.
Pemandangan dari puncak menara
Patung kayu berukuran besar menghiasi pelataran di belakang museum. Pemandangan cantik perkebunan zaitun, anggur menjadi latar yang sangat indah. Gelato, es krim Italia, yang manis segar menjadi penutup hari ini.

Penjelajahan berikutnya mengunjungi kota-kota besar di wilayah Tuscany, Sienna dan Arezo...

Rabu, 11 Juli 2018

Takjub dengan Pemandangan bak Lukisan, Val d'Orcia

Val d'Orcia
Perbukitan yang tampak hijau bak permadani diselingi pohon Cypress yang langsing dan tinggi menjulang berjajar rapi disekitar rumah-rumah tua, pemandangan cuantik yang mempesona. Inilah pemandangan Val d'Orcia, Tuscany yang sering kita lihat di postcard, kalender, akun instagram @earthpix, @sennarex, @beautifuldestinations (akun-akun ngetop landscape). Kecantikannya ini membuat saya kepo banget, sehingga mengunjungi Italia sekali lagi. Pengen tau beneran secantik itukah daerah ini, apa karena efek kamera aja, semua bisa tampak cantik..😃😃

Di bulan Mei ini tumbuh-tumbuhan kembali menghijau setelah tidur panjang di musim dingin. Akan tetapi pagi langit terlihat mendung dan turun gerimis kecil. Cuaca panas dingin tak menentu sering sekali terjadi. Seperti hatiku yang sering panas, dingin, galau...curcol nih. hehehe.


Crete Sinese
Meskipun gerimis, langit mendung, dan suhunya dingin, tapi karena sudah jauh2 datang ke Tuscany, marilah kita tetap semangat berpetualang. 

Sebagai pengganjal perut saya ikut makan pagi ala Italia bersama temen saya orang asli Italia. Sepotong roti, yogurt, dan segelas kopi pahit, sarapan khas Italia. Bagi saya yang hobi makan nasi uduk, makan banyak.hehehe. Mikir juga, wuih nanti saya kelaparan nggak yah, sedikit amat sarapannya. Tapi dicobalah seberapa kuat nahan laparnya.

Hari ini, giliran tur naek mobil mengelilingi area Tuscany. Jalanan yang mulus dan lengang terasa sangat berbeda dengan macet, dan penuhnya jalanan Jakarta yang sering bikin stress berat.  

Crete Sinese, wilayah yang pertama kali kami kunjungi. Sepanjang jalan terlihat hamparan hijau bukit yang terlihat seperti permadani luas yang indah banget. Hamparan hijau ini bukanlah padang rumput tetapi ladang gandum yang sangat luas. Menjelang musim panen hamparan ladang gandum ini berubah warna menjadi kuning.
Pemandangan cuantik sekali, super keren, harus diabadikan. Berkali-kali kami turun dari mobil berhenti mengambil gambar. Pemandangan yang menyejukkan mata ditambah tiupan sepoi-sepoi sangat menentramkan.


Memasuki wilayah Val d'Orcia pemandangan menjadi semakin menakjubkan. Pemandangan Val d'Orcia betul-betul cantik, bila secara nyata dilihat langsung jauh lebih dari yang bisa ditangkap kamera. Terlihat sama dengan foto-foto di instagram, wall paper atau postcard. Buanyak turis-turis berlalu lalang dengan mobilnya atau bersepeda gunung. Daerah ini mengalir sungai Orcia oleh karena itu diberi nama Val d'Orcia.


Apakah hanya sekedar kebetulan lahan pertanian di Val d'Orcia bisa secantik ini?. Ternyata Val d'Orcia adalah landscape ciptaan pedagang-pedagang dari Sienna yang menguasai daerah ini pada abad 14 dan 15 masehi (masa Renaissance). Idenya mereka menginginkan kawasan pertanian yang efektif dan efisien serta indah dipandang mata. Pemandangan ini sering menjadi latar lukisan para pelukis Renaissance. Karena kekayaan sejarahnya Val d'Orcia menjadi salah satu UNESCO world heritage sites (cultural landscape).


Dari lembah menanjak ke perbukitan terlihat kota Montalcino. Kota cantik diatas bukit yang tua banget umurnya dari abad 13 masehi, bandingkan dengan bangunan kota tua Jakarta yang rata-rata bangunannya dari abad 18 masehi. Serasa berjalan mundur ke masa lalu, ke abad pertengahan, seperti yang digambarkan film-film tentang kerajaan. Tembok kota dengan dinding yang tebal mengelilingi kota, pintu gerbang yang akan ditutup setiap malam, jalan-jalan setapak dari batu yang di kiri kanannya berdiri kokoh  bangunan-bangunan kuno.


Benteng Montalcino
Pada puncak tertinggi kota ini berdiri benteng pertahanan, ciri khas kota-kota abad pertengahan. Pada masa itu sering terjadi peperangan antar kota sehingga dengan benteng pertahanan kokoh bisa memperkuat pertahanan kota dari serangan musuh, serta menjaga kota dari serangan binatang buas. 
Dalam Benteng
Benteng ini masih utuh dan terawat dengan baik dan terdapat bar wine dengan anggur yang sangat terkenal brunello di Montalcino. Saking berkualitasnya, Brunello adalah anggur pertama yang mendapat sertifikat quality assurance dari pemerintah Italia. Saya betul-betul terkejut di bar wine (etnoteca bahasa Italianya) melihat satu botol anggur yang mahal sekali 3500 euro kalo dikurs ke rupiah jadi sekitar 60an juta. Sepertinya masih banyak lagi yang anggur yang lebih mahal lagi harganya dijual di wine bar ini. Semakin tua umur anggur harganya semakin mahal seperti kata pepatah tua tua keladi, makin tua makin menjadi. 😃😃. 

Pemandangan perbukitan ladang gandum hijau dan pohon cypress terus mendominasi pemandangan dalam perjalan ke kota Pienza. Pada awalnya desa ini bernama Corsignano tempat kelahiran Enea Silvio Piccolomini yang kemudian menjadi Paus Pius II. Pada masa jabatannya inilah (Abad 15 Masehi), Piccolomini mengubah seluruh desa menjadi kota ideal Renaissance yang diperuntukkan sebagai kota peristirahatan Paus. 


Pienza dari kejauhan
Kota ini lah yang pertama kali menggunakan konsep tata kota humanis yaitu beberapa bangunan utama kota (kantor pemimpin kota, gereja, dan bangunan lain) mengelilingi central square membentuk segi empat. Konsep ini kemudian diterapkan di kota-kota lain di Italia dan menyebar ke seluruh Eropa. Oleh karena itu, WHO menjadikan kota ini sebagai World Heritage Sites.
Gereja Pienza
Pemandangan dari atas kota Pienza
Istimewanya pada musim semi ini bunga-bunga poppy liar bermekaran, warna merah bunga poppy ini semakin mempercantik pemandangan. Terlihat juga rumah-rumah besar yang dikelilingi pohon-pohon cypress, rumah-rumah ini banyak yang menjadi hotel bed and breakfast.
Bunga Popy
Pengunjung dapat suasana pedesaan dengan pemandangan ladang gandum, anggur, dapat asiknya dapat anggur dan keju eunak yang gratis serta diajak melihat bagaimana cara merawat kebun anggur, pengolahan anggur dan penyimpanan anggur. Dalam bahasa Italia disebut juga argrotuorismo.

Walaupun perjalanan yang ditempuh lembah ke bukit naik turun dan jalan berkelok-kelok, tetap terasa menyenangkan karena disuguhi pemandangan cuantik hijau dan segar ini. Kesegaran bertambah dengan kami singgah di pemandian air panas Bagno Vignoni yang sudah ada sejak zaman Romawi. Pemandian utama hanya bisa dipandangi tidak untuk brendam, ditengah-tengah pemandian setiap beberapa bulan dipasangi instalasi seni cantik. 

Sumber air panas ini mengalirkan air sampai ke danau kecil dibawah tebingnya Parco dei Mulini, disinilah pengunjung dapat berendam. Sekedar melepaskan kepenatan kaki, kami duduk diparit kecil sambil meletakkan kaki untuk dibasahi air hangat terasa sejuk di kaki.
Instalasi seni di kolam utama
Perjalanan kami teruskan dengan pemandangan yang tetap super cantik menuju kota Montepulcino. Kota-kota perbukitan abad pertengahan, jalan setapak dari batu dan sempit serta bangunan-bangunan kuno yang tidak diplester dinding sehingga terlihat batu aslinya. 
Hari yang sehat untuk mata, melihat semarak pemandangan hijau.


Cerita berikutnya tentang kota Vinci, kota kelahiran Leonardo da Vinci, super jenius Italian.

Jumat, 06 Juli 2018

Terpukau dengan Menara Pencakar Langit Abad Pertengahan San Gimignano

Menara San Gimignano
Menikmati udara pagi Jakarta di minggu pagi Car Free Day dengan pemandangan gedung-gedung pencakar langit Jakarta adalah kegiatan yang menyegarkan kepenatan kesibukan kerja. Gedung-gedung pencakar langit ini mulai menghiasi pemandangan langit Jakarta sejak tahun 80 an atau 90an abad 20 masehi. Begitu juga kota-kota modern lain di dunia gedung-gedung pencakar langit kebanyakan dibangun di abad 20 masehi. Ada nggak yah kota masa lalu yang punya pemandangan pencakar langit yang masih bisa kita lihat sekarang?

Ternyata di wilayah Tuscany Italia, terdapat kota kecil San Gimignano yang terkenal dengan menara-menara pencakar langitnya dari abad pertengahan 13 Masehi dan senang sekali petualangan saya di Tuscany bermula disini. Perjalan menuju San Gimignano juga sangat memanjakan mata dengan pemandangan indah hamparan kebun anggur, ladang gandum, pohon zaitun dan pepohonan hijau di  kanan kiri jalan.

Pemandangan Hijau
Dari kejauhan terlihat kota abad pertengahan ini tampak kokoh dengan tembok kota tebal di sekelilingnya. Suasana masa lalu abad pertengahan sangat terasa ketika saya mulai masuk ke dalam kota, lewat pintu gerbang kota yang besar. Saya menyelusuri jalanan berbatu yang kiri kanannya berdiri kokoh bangunan tua sejak zaman pertengahan. Dinding bangunannya tidak diberi lapisan sehingga terlihat jelas batu-batu penyusun dinding. Lantai satu dari bangunan tersebut disulap menjadi toko-toko kecil nan cantik yang menjual berbagai macam makanan maupun souvenir sedangkan lantai duanya untuk tempat tinggal.
Jalan Berbatu San Gimignano
Kendaraan dilarang masuk ke dalam kota (tempat parkir disediakan di luar tembok kota)  sehingga saya harus berjalan kaki untuk menjelajahi kota ini. Sampai di Piazza Cisterna terlihat 13 menara-menara tinggi pencakar langit menghiasi pemandangan langit yang sangat mempesona. Terdapat sumur ditengah-tengah piazza yang merupakan sumber air bagi penduduk kota di masa lampau sehingga mereka tidak harus keluar dari tembok kota untuk mengambil air. Saya berbaur dengan begitu banyak turis yang mengunjungi kota ini.
Turis-turis menikati pemandangan langit San Gimignano
San Gimignano pada abad pertengahan adalah kota peristirahatan bagi peziarah katolik yang hendak berkunjung ke kota Roma dan Vatikan. Selain itu perdagangan hasil pertanian membuat penduduk kota ini menjadi kaya raya. Tetapi kemudian terjadi persaingan antara keluarga sehingga setiap keluarga berlomba-lomba membangun menara yang paling tinggi sampai akhirnya berdiri 72 menara pencakar langit di kota ini. Persaingan ini berakhir ketika pemerintah kota membuat peraturan bahwa tidak boleh ada menara yang lebih tinggi dari Palazzo Comunale sehingga beberapa menara dirubuhkan dan tersisa 13 menara.
Menara San Gimignano
Awalnya saya tidak terlalu tertarik mengunjungi museum dan gereja yang terlihat sepi tetapi karena diajak oleh temen saya, akhirnya saya iyakan saja. Biaya masuk ke museum dan gereja  6 euro, ditambah biaya sewa audio guide 2 euro. Ternyata tidak rugi masuk  ke museum ini, banyak sekali koleksi lukisan, patung, serta benda-benda bersejarah lainnya yang bisa kita lihat.

Koleksi yang paling menarik perhatian saya adalah 2 lukisan pada kayu karya Mateo Roselli pada tahun 1578 - 1650. Lukisan ini satunya berjudul Saint Francis and Saint Clare yang satunya lagi Jesus Christ and Saint Maria Magdalene. Kedua lukisan ini akan menampakkan gambar yang berbeda bila kita lihat dari sisi berbeda. Bila dilihat dari sisi kiri terlihat wajah pada masing-masing lukisan Saint Francis dan Jesus Christ, sedangkan bila dilihat dari sisi kanan terlihat wajah Saint Clare dan Saint Maria Magdalene.
Dilihat dari sisi kiri wajah Saint Francis dan Jesus Christ
Dari Sisi Kanan Wajah Saint Clare dan Saint Maria Magdalene
Gereja (duomo) San Gimignano terlihat biasa saja, tidak terlalu menarik bila dilihat dari  luar. Dinding batu tua dan usang dan tidak terlalu banyak ukiran maupun patung untuk mempercantik. Ketika saya memasuki duomo ini, ternyata ruangan dalam gereja sangat besar dan cantik, lukisan-lukisan cantik warna warni memenuhi seluruh dinding maupun atap, praktis tidak ada dinding yang tanpa lukisan. Suasana dalam gereja agak remang-remang untuk mengurangi cahaya masuk sehingga lukisan pada dinding yang sudah ada sejak tahun 1300 tetap terjaga terlihat warnanya masih terang dan gambarnya jelas.
Bagian depan Gereja San Gimignano
Pada dinding kanan gereja terlihat lukisan kisah perjanjian lama yang terbagi menjadi 3 tingkat. Dimulai dari sisi kiri atas lukisan penciptaan dunia dan manusia, Adam dan Hawa di taman Eden serta penciptaan Hawa, Adam dan Hawa makan buah terlarang, terusir dari taman Eden, Kain dan Habel, Nuh dan bahterahnya, Abraham, Yusuf, Musa dan Ayub. Pada dinding kiri lukisan kisah kehidupan, penyaliban dan kebangkitan Tuhan Yesus dari perjanjian baru. Saya takjub dengan keindahan duomo yang sangat cantik ini.
Lukisan di dinding kanan tentang Kehidupan Yesus Kristus
Keindahan gereja San Gimignano yang dipenuhi lukisan
Pada masa lalu duomo adalah lambang harga diri suatu kota. Semakin cantik arsitektur maupun interior suatu duomo (yang membutuhkan biaya besar) menandakan kemakmuran dan kekayaan kota tersebut. Termasuk San Gimignano yang sangat kaya raya pada abad pertengahan.
Perjalanan yang sangat menyenangkan, selanjutnya perjalanan menikmati keindahan pemandangan bak lukisan Val D'Ocia....        

Minggu, 01 Juli 2018

Liburan Seru di 8 Tempat Wisata Hits Kota Roma Kurang Dari 12 Jam

Basilika Santo Paulus
1. Basilika Santo Paulus

Jam 12 siang penjelajahan tempat wisata hits di kota Roma saya mulai. Perjalanan pertama menuju Basilika Santo Paulus di luar tembok. Gereja ini terletak di Via Ostiense dekat dengan stasiun Basilica di San Paolo jalur Metro Line B (Laurentina). Berkunjung ke gereja ini tidak perlu membayar tiket (gratis).

Memasuki area masuk gereja terlihat tentara Italia bersenjata lengkap tampak berjaga-jaga di depan pintu masuk gereja. Berbagai serangan teroris yang sering terjadi di Eropa membuat tentara ikut menjaga banyak tempat wisata.
Basilika Santo Paulus
Memasuki ruangan basilika yang besar dan megah, saya terpesona dengan lukisan (mosaik) berwarna keemasan yang memenuhi dinding maupun atap gereja. Di tengah gereja terdapat altar yang dengan tangga menuju ruangan bawah. Disana saya bisa melihat makam rasul Paulus dan rantai yang mengikat rasul Paulus ketika akan di hukum mati. Terihat banyak sekali peziarah serta suster yang berdoa.
Makam dan rantai yang mengikat rasul Paulus
Menurut tradisi gereja, rasul Paulus dihukum mati dengan cara di penggal kepalanya pada abad pertama Masehi di kota Roma. Para pengikut rasul Paulus kemudian menguburkan jenasahnya serta membuat suatu peringatan di atas makamnya, cella memoriae. Pada tahun 324 M atas perintah kaisar Konstantin dibangun gereja kecil di atas makam ini. Gereja ini kemudian mengalami beberapa kali renovasi hingga menjadi semegah dan sebesar ini.

Keistimewaan mosaik gereja ini adalah pada dinding atas gereja terdapat mosaik (lukisan) Paus mulai dari rasul Petrus sampai Paus Francis yang sekarang bertahta. Hanya lukisan Paus Francis ini yang bercahaya (terang). Gereja ini tidak terlalu ramai dikunjungi turis karena letaknya yang agak jauh dari pusat kota Roma, kebanyakan yang mengunjungi gereja ini adalah peziarah.

Setelah menyelusuri keindahan susut-sudut gereja, rasa lapar mulai menyerang, saatnya makan. Saya memilih makan di restoran yang letaknya tidak jauh dari gereja. Menu yang saya pesan carbonara dan babi panggang kentang. Ternyata butuh waktu lama sekitar lebih 20 menit menunggu makanan dihidangkan, saya yang sudah kelaparan berat harus menahan lapar.  

Akhirnya hidangan datang juga, yang pertama datang carbonara (spageti dengan saus creamy keju dan telur). Spagetinya dimasak setengah matang jadinya agak keras, saya lebih suka bila spagetinya lebih matang dan lembek. Setelah carbonaranya habis, menu kedua babi panggang kentang baru dihidangkan. Kebiasaan makan di Italia, makanan utama dihidangkan satu jenis dulu setelah habis selanjutnya dihidangkan yang berikutnya, tidak sekaligus. Terakhir secangkir kopi espreso hitam dan pahit untuk pencernaan. 
Carbonara
Meja di restoran Italia punya ciri khas yaitu selalu dilapisi 2 lapis taplak meja. Lapisan paling atas selalu baru (setiap kali pengunjung selesai makan segera diganti dengan baru untuk pengunjung selanjutnya). Tidak ada meja yang tidak dilapisi taplak.

2. Piramida Cestius

Dari stasiun metro Basilica di San Paolo saya menuju stasiun metro Piramide untuk mengunjungi piramid yang ada di kota Roma. Keluar dari stasiun metro Piramide saya berjalan kaki menuju Piramida Cestius yang jaraknya tidak lebih dari 500 meter. Dari kejauhan terlihat piramid yang tinggi dan putih cemerlang bersebelahan dengan jalanan umum yang ramai. 
Piramid Cestius
Piramida ini adalah makam Caius Cestius salah satu pejabat Romawi yang dibangun pada tahun 18-12 sebelum masehi setelah kerajaan Romawi menaklukan Mesir. Tinggi piramid ini 36 meter, dan dasarnya di bawah permukaan jalan. Pemandangan menarik ditengah kota Roma.

3. Colosseum

Tujuan selanjutnya Colosseum, dari stasiun metro Piramide perjalanan saya lanjutkan ke stasiun metro Colosseo. Keluar dari stasiun metro, pemandangan Colosseum yang megah diseberang jalan membuat saya terpana. Tepat disebelah Colosseum terdapat Roman Forum sisa-sisa reruntuhan kerajaan Romawi. Dua tahun yang lalu saya juga mengunjungi Colosseum dan Roman Forum tetapi tidak masuk ke dalam bangunannya.
Bagian Luar Colosseum
Loket antrian tiket Roman Forum nampak lengang, saya ikutan antriannya dan ternyata bisa membeli tiket gabungan Colosseum dan Roman Forum seharga 12 euro.  Sebelum masuk ke Colosseum dilakukan pemeriksaan X-ray. Tas berukuran besar (back pack) tidak diijinkan dibawa masuk, sebaiknya memang membawa tas berukuran kecil saja dan botol minum  yang dibawa kecil saja karena dibeberapa tempat disediakan mata air minum gratis. Dalam waktu bersamaan hanya 3.000 orang yang diijinkan masuk ke dalam Colosseum.

Masuk ke dalam Colosseum saya terpesona dengan kemegahan dan begitu besarnya amphiteater ini. Pada masa Romawi Colosseum dapat menampung 50.000 – 80.000 orang seperti stadium sepakbola masa kini. Pembangunannya dimulai dibangun sejak tahun 72 masehi oleh kaisar Romawi Vespasian dan selesai pada tahun 80 masehi oleh kaisar Titus.
Arena Gladiator Colosseum
Oleh pemerintah Romawi Colosseum dijadikan tempat hiburan pertunjukan berdarah bagi masyarakat Roma. Pertarungan antara binatang, pertarungan antara tahanan dan binatang, eksekusi tahanan, pertarungan air (dengan cara membanjiri area), serta pertarungan antar tahanan (gladiator) adalah pertarungan yang sering dilakukan di tempat ini.

Menyusuri lorong-lorong Colosseum terlihat tiang-tiang besar yang masih kokoh berdiri sejak ribuan tahun yang lalu. Beberapa bagian Colosseum yang rusak akibat gempa bumi dan penjarahan mulai di renovasi. Naik ke lantai dua telihat jelas lantai arena yang hancur sehingga terlihat lorong-long bawah tanah sebagai tempat persiapan pertandingan serta ruang tahanan.

Pada ujung lantai dibangun lantai kayu sebagai contoh lantai pada masa lalu, dan terdapat salib pada ujung lambang kemenangan Kristus di tempat penganiayaan umatnya. Banyak umat Kristen pada masa Romawi ditahan dan dihukum mati dengan cara dilempari batu, dimakan hewan buas, dibakar dan disalibkan di tempat ini salah satu yang terkenal adalah Bishop Ignatius dari Antiokia.

Colosseum adalah ruangan terbuka sehingga terkena langsung matahari, siapkan topi sebagai peneduh di bawah teriknya matahari serta tenaga untuk naik turun tangga menjelajahi Colosseum yang luas.

4. Roman Forum

Selanjutnya mengunjungi Roman Forum yang terletak bersebelahan dengan Colosseum. Memasuki Roman Forum saya menyusuri Palatine Hill terlihat reruntuhan rumah-rumah kaisar dan pejabat Romawi, yang menarik rumah-rumah tersebut dibangun dengan susunan batu bata merah seperti bangunan rumah zaman modern.
Dinding Batu Bata Zaman Romawi
Dari atas bukit Palatine terlihat taman kota di pusat kota Roma, tempat diadakan konser dan pesta perayaan contohnya pesta kemenangan Italia pada piala dunia 2006. Pada masa Romawi tempat ini adalah stadium balap kereta kuda Circus Maximus.
Reruntuhan Roman FOrum
Pada bagian lembah terlihat reruntuhan Roman Forum yang pada masa lalu adalah pusat kota Romawi tempat berdirinya istana, gedung senator, kuil-kuil, pasar dan taman cantik. Kompleks ini besar dan untuk memahami serajah reruntuhan bangunan ini menggunakan audio guide atau bersama pemandu wisata agar mengerti sejarah bangunan tersebut.

Beberapa bangunan penting di Roman Forum :
  1. Kuil Antoninus Pius, kuil yang dibangun  tahun 141 Masehi dan didedikasikan untuk Antoninus Pius dan istrinya Faustina.
  2. Kuil Saturn, kuil pertama di Roman Forum. Kuil pemujaan dewa utama Romawi yang dibangun tahun 497 sebelum masehi.
  3. Arch of Titus, tugu kemenangan Romawi tertua. Tugu ini lambang kejayaanTitus dalam menghancurkan dan mengalahkan bangsa Israel pada tahun 70 masehi.
  4. Kuil Vesta, bangunan paling suci dan penting pada masa Romawi. Di dalam kuil ini terdapat api suci abadi yang dijaga oleh 6 pendeta wanita dari kalangan keluarga paling terhormat di Roma.
  5. Rumah Vesta, rumah tempat tinggal perawan vesta (pendeta wanita). Terdapat taman dan patung-patung vesta.
    Rumah Vesta
5. Monumen Viktor Emmanuel II

Dari pintu keluar Roman Forum saya belok kiri menyusuri trotoar pejalan kaki sekitar 200 meter sampailah saya di Monumen Viktor Emmanuel II. Monumen ini sangat besar dan megah dari marmer putih yang dipenuhi patung-patung sangat kontras dengan bangunan disekitarnya yang berwarna coklat tanah. 

Monumen ini dibangun sebagai penghormatan terhadap raja pertama Italia Viktor Emmanuel II yang menyatukan Italia. Patung Viktor Emmanuel II yang mengendarai kuda terlihat menjulang tinggi. Pada monument ini juga terdapat altar of fatherland yang dilambangkan dengan makam tentara Italia yang tidak dikenal yang terbunuh pada perang dunia ke 1 dengan api abadi dan terletak dibawah patung dewi Romawi.
Monumen Viktor Emanuel II
Pada musim semi seperti ini banyak sekali turis yang mengunjungi Roma, sehingga di jalan banyak terlihat tumpukan sampah beserakan, tempat sampah yang disediakan tidak banyak serta sudah penuh dengan sampah. Walaupun demikian kita jangan ikut-ikutan buang sampah sembarangan. Banyak tempat wisata terkenal lainnya yang berdekatan dengan monumen ini dan sebaiknya ditempuh dengan berjalan kaki walaupun agak lumayan juga jalannya. Di pusat kota Roma penggunaan kendaraan dibatasi bahkan di tempat tertentu dilarang sehingga berjalan kaki adalah cara untuk mengunjungi tempat yang satu dengan lainnya.

6. Pantheon

Menelusuri jalan kecil kota Roma, saya berjalan menuju Pantheon. Dikiri kanan jalan terlihat banyak restoran, toko pakaian, serta berbagai cendera mata. Berbeda dengan Jakarta, pusat perdagangannya dikuasai mall besar, di Roma mall nya tidak besar dan tidak sebanyak di Jakarta yang ada adalah banyak toko-toko kecil (outlet) tersebar di pusat kota. Bagi saya ini menandakan ekonomi lebih merata tidak dikuasai segelintir orang seperti di Jakarta.
Pantheon tampak depan
Dari kejauhan terlihat deretan tiang-tiang besar dan kokoh bangunan Pantheon. Bangunan ini pada masa Romawi adalah kuil para dewa dewi Romawi. Pantheon adalan bagunan Romawi kuno yang bertahan dan terpelihara dengan baik sampai sekarang karena terus digunakan dari generasi ke generasi. Sejak abad ke 7 masehi, Pantheon dijadikan gereja yang didedikasikan untuk Santa Maria dan Para Martir.
Oculus
Masuk ke dalam Pantheon terlihat ruangan bulat (rotunda) terbuat dari pualam yang dilengkapi kubah besar yang sering disebut kubah langit. Pada puncak kubah terdapat lubang ventilasi dan sumber cahaya terbuka ke langit yang dinamakan oculus (mata besar). Pantheon juga menjadi tempat pemakaman pelukis Raphael, Raja Viktor Emanuel I dan Raja Viktor Emanuel II.

7. Trevi Fountain

Berjalan menelusuri jalan-jalan sempit, tujuan selanjutnya Trevi Fountain. Air mancur bergaya Baroque ini sangat terkenal dan sangat ramai dikunjungi turis. Patung Neptunus menunggangi lumba-lumba serta berbagai mahluk laut dan dewa dewi menghiasi air mancur ini.
Trevi Fountain
Saya harus berdesak-desakan dan antri di antara kerumunan orang untuk bisa melihat dan mendekati air mancur untuk melempar koin. Menurut tradisi dengan melempar koin dengan tangan kanan melalui bahu kiri maka di masa depan kita akan mengunjungi Roma. Tumpukan koin terlihat memenuhi dasar kolam air mancur ini.

8. Spanish Step
Piazza Spagna
Pada musim semi ini matahari terbit sekitar pukul 06.00 pagi dan tenggelam sekitar pukul 21.00, hari yang sangat panjang yang berjalan-jalan. Menjelang matahari terbenam ini saya menuju Spanish Step. Saya menyusuri ratusan anak tangga yang menjadi tempat nongkrong  banyak orang ini, dari air mancur Fontana La Barcaccia naik sampai ujung anak tangga yaitu gereja Triniti dei Monti. Rasa capek yang terasa terbayar dengan pemandangan kota Roma dan kubah vatikan dengan langit berwarna orange pada saat matahari terbenam yang sangat cantik. 
Senja dari Puncak Spanish Step
Fontana La Barcaccia pernah mengalami kerusakan parah pada tahun 2015 akibat ulah fans sepakbola Belanda yang menghadiri pertandingan sepakbola UEF antara Feyenoord (tim Rotterdam Belanda) melawan AS Roma. Air mancur tersebut dipenuhi sampah, balon, botol bir dan patung air mancur tergores disana sini. Kerusakan ini membuat pemerintah Italia memaksa pemerintah Belanda untuk membayar biaya renovasi air mancur ini.
Fontana La Barcaccia dan Spanish Step
Pemandangan lain yang terlihat di Roma adalah begitu banyak orang Bangladesh berjualan di jalan ataupun di toko-toko cendera mata. Sering kali mereka memaksa dalam menawarkan barang-barang dagangannya seperti halnya ketika kita pergi ke objek wisata di Indonesia. Italia adalah negara kedua dengan populasi imigran Bangladesh terbesar setelah Inggris di benua Eropa. Kebanyakan dari mereka menggunakan dokumen palsu. 

Imigran kulit hitam juga banyak terlihat, para imigran inilah yang membuat kota Roma semakin kotor dan semakin berbahaya. Banyak pencopet dimana-mana dan membuat turis sangat terganggu. Permasalahan imigrasi inilah yang menjadi permasalahan besar di Italia dan negara-negara Eropa lainnya, sehingga di Italia partai populis dan partai neo nazi yang berkeinginan memperketat perbatasan dan imigran memenangkan pemilu.

Walaupun kota Roma tidak terlalu bersih, banyak pencopet, banyak imigran yang menggangu tetapi pesonanya tetap sangat kuat menarik lebih dari 50 juta turis berkunjung setiap tahun. Kekayaan sejarah, arsitektur masa Romawi kuno sebagai pusat peradaban Eropa serta gereja cantik menjadi daya tarik yang terus mempesona.

Tidak terasa sekarang sudah jam 9 malam dan 8 tempat wisata paling hits di Roma sudah saya kunjungi dalam waktu kurang dari 12 jam. Perjalanan di Roma ini saya akhiri dengan makan malam di restoran dekat Spanish Step. Seperti biasa harus menunggu lama lebih dari 20 menit sebelum sepiring pizza lezat datang. Kesabaran memang sangat dibutuhkan di restoran Italia. Hari sudah malam saatnya menuju Tuscany, mari kita jelajahi lagi keindahan wilayah utara Italia ini.